Kami bagikan laporan pendahuluan CAD pdf dan doc

Teman-teman sejawat sekalian alhamdulillah hingga ketika ini kami masih diberi kesempatan untuk menshare laporan pendahuluan dan ilmu keperawatan lainnya.

Pada kesempatan kali ini kami mengembangkan laporan pendahuluan CAD yaitu suatu keadaan dimana terjadi penumpukan plak pada arteri koroner sehngga terjadinya penyempitan arteri koroner. laporan pendahuluan CAD ini kami susun selengkap mungkin dan juga kami sediakan dalam format pdf dan doc supaya mempermudah sahabat perawat sekalian dalam pembuatan tugas.

Untuk mendownload laporan pendahuluan CAD format pdf dan doc, telah kami selipkan link unduhan diakhir artikel ini yang bisa teman-teman sekalian gunakan untuk mengambil file lp CAD.

Laporan pendahuluan CAD

Defenisi

CAD yakni penyakit pada arteri koroner dimana terjadi penyempitan atau sumbatan pada liang arteri koroner oleh lantaran proses atherosklerosis. Pada proses artherosklerosis terjadi perlemakan pada dinding arteri koroner yang sudah terjadi semenjak usia muda hingga usia lanjut. Proses ini umumnya normal  pada setiap orang. Terjadinya infark sanggup disebabkan beberapa faktor resiko, hal ini tergantung dari individu.


Sirkulasi Koronaria

Dua arteri koronaria yang melayani miocardium muncul dari sinus katup aorta pada pangkal aorta. Sirkulasi koroner ini terdiri dari arteri koronaria kanan dan arteri koronaria kiri. Arteri koronaria kiri mempunyai dua cabang besar, arteria desendens anterior kiri dan arteria sirkumfleksa kiri. Arteria-arteria ini berjalan melingkari  jantung  dalam dua celah anatomi eksterna : suklus atrioventrikularis, yang melingkari jantung di antara atrium dan ventrikel, dan suklus interventrikularis yang memisahkan kedua ventrikel.

Efisiensi jantung sebagai pompa tergantung dari nutrisi dan oksigenasi otot jantung. Sirkulasi koroner meliput seluruh permukaan jantung, membawa oksigen dan nutrisi ke miokardium melalui cabang-cabang intramiokardial yang kecil-kecil. Untuk sanggup mengetahui akibat-akibat dari penyakit jantung koroner, maka kita harus mengenal terlebih dahulu distribusi arteria koronaria ke otot jantung dan sistem penghantar. Morbiditas dan dan mortalitas pada infark miokardia tergantung pada derajat gangguan fungsi yang ditimbulkannya, baik mekanis maupun elektris.


Faktor Resiko :

Faktor yang bisa menjadi penggagas CAD terbagi menjadi 2 faktor resiko yaitu :

Yang sanggup dirubah:

Mayor:
  • Peningkatan lipid serum
  • Hipertensi
  • Merokok
  • Gangguan toleransi glukosa
  • Diet tinggi lemak jenuh, kelesterol dan kalori

 Minor:
  • Gaya hidup yang kurang bergerak
  • Stress psikologik
  • Type kepribadian

Yang tidak sanggup dirubah:
  • Usia
  • Jenis kelamin
  • Riwayat keluarga
  • Ras




Etiologi

Terdapat empat faktor resiko biologis yang tak sanggup diubah, yaitu: usia, jenis kelamin, ras dan riwayat keluarga. Kerentanan terhadap aterosklerosis koroner meningkat dengan bertambahnya usia. Penyakit yang serius jarang terjadi sebelum usia 40 tahun. Wanita sepertinya relative kebal terhadap penyakit ini hingga setelah menopause, dan kemudian menjadi sama rentannya menyerupai pria. Efek proteksi estrogen dianggap sebagai klarifikasi adanya imunitas perempuan pada usia sebelum menopause. Orang Amerika-Afrika lebih rentan terhadap aterosklerosis daripada orang kulit putih. Akhirnya, riwayat keluarga yang positif terhadap penyakit jantung koroner (yaitu, saudara atau orang renta yang menderita penyakit ini sebelum usia 50 tahun) meningkatkan kemungkinan timbulnya aterosklerosis premature.

Faktor-faktor resiko pemanis lainnya masih sanggup diubah, sehingga berpotensi sanggup memperlambat proses aterogenik. Faktor-faktor resiko mayor adalah:

1. Hiperlipidemia

Lipid plasma yakni kolesterol, trigliserida, fosfolipid, dan asam lemak bebas berasal dari oksigen, dari masakan dan endogen dari sintesis lemak.kolesterol dan trigriserida yakni dua jenis lipid yang relatif mempunyai makna klinis yang penting sehubungan dengan asteriogenesis. Lipid tidak larut dalam plasma tetapi terikat pada protein sebagai mekamisme transport dalam serum. Peningkatan kolesterol dihubungkan dengan meningkatnya resikoterhadap koronaria sementara kadar kolesterol HDL yang meningkat sepertinya berperan sebagai faktor pelindung terhadap penyakit arteri koronaria.

2. Hipertensi

Tekanan darah tinggi yakni faktor resiko yang paling membahayakan lantaran biasanya tidak menandakan gejalasampai kondisi telah menjadi lanjut/ kronis. Tekanan darah tinggi mengakibatkan meningkatnya gradien tekanan yang harus dilawan oleh ventrikel kiri ketika memompa darah. Tekanan tinggi yang tidak terkontrol sanggup mengakibatkan kebutuhan oksigen jantung meningkat.

3. Merokok

Resiko meroko tergantung pada jumlah roko yang digunakan perhari, bukan pada lamanya seseorang merokok. Seseorang yang meroko lebih dari sebungkus sehari, beresiko mengalami kesehatan khususnya gangguan jantu 2 kali lebih besar daripada mereka yang tidakmerokok. Merokok berperan dalam memperburuk kondisi penyakit arteri koroner melalui 3 cara meliputi:
  • Menghirup asam akan meningkatkan kadar karbonn monoksida (CO) darah. Hemoglobin, komponen darah yang mengangkut oksigen lebih gampang terikat pada karbon monoksida daripada oksigen. Hal ini mengakibatkan oksigen yang disuplai ke jantung menjadi sangat berlebih, sehingga jantung bekerja lebih berat untuk menghasilkan energi yang sama besarnya.
  • Asam nikotinat pada tembakau memicu pelepasan katekolamin, yang mengakibatkan kontriksi.
  • Merokok, meningkatkan adhesi trombositmengakibatkan pembentukan thrombus
4. Diabetes Mellitus

Penderita DM cenderung mempunyai prevalensi arteriosklerosis yang lebih tinggi, demikian juga pada kasus arteriosklerosis koloner prematur berat. Hiperglekimia mengakibatkan peningkatan agrerasi trombosit yang ddapat mengakibatkan trombus. Hiperglekimia bisamenjadi penyebab kelainan metabolisme lemak/ predisposisi terhadap degenerasi vaskular yang berkaitan dengan gangguan intoleransi terhadap glukosa.


Patofisiologi

Pada keadaan normal terdapat keseimbangan antara anutan darah arteri koronaria dengan kebutuhan miokard. Pada CAD mengatakan ketidakseimbangan antar anutan darah arterial dan kebutuhan miokardium.

Keseimbangan ini dipengaruhi oleh :
  • Aliran darah koroner
  • Kepekaan miokardium terhadap iskhemik
  • Kadar oksigen dalam darah
Aliran darah arterial yang berkurang hampir selalu disebabkan oleh arteriosklerosis.
Arteriosklerosis mengakibatkan penimbunan lipid dan jaringan fibrosa dalam arteria koronaria sehingga secara progresif mempersempit lumen pembuluh darah. Bila lumen menyempit maka resistensi terhadap anutan darah akan meningkat dan membahayakan anutan darah mokardium. Bila penyakit ini semakin lanjut, maka penyempitan lumen akan diikuti perubahaan vaskuler yang mengurangi kemampuan pembuluh untuk melebar.Dengan demikian keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen genting, mem bahayakan myokardium distal dan tempat lesi. Lesi yang bermakna  secara klinis, yang sanggup mengakibatkan iskemi dandisfungsi miokardium biasanya menyumbat lebih dari 75 % lumen pembuluh darah. Langkah simpulan prose patologis yang menimbulkan gangguan klinis sanggup terjadi dengan cara berikut :
  • Penyempitan lumen progresif tanggapan pembesaran  plak.
  • Perdarahan pada plak ateroma 
  • Pembentukan trombus yang diawali agregrasi trombosit
  • Embolisasi trombus / fragmen plak
  • Spsme arteria koronaria
Lesi-lesi arteroskleosis biasanya berkembang pada segmen epikardial proksimal dari arteria koronaria yaitu pada temapat lengkungan yang tajam, percabangan atau perlekatan. Pada tahap lebih lanjut lesi-lesi yang tersebar difus menjadi menonjol.

Pathway CAD

 Untuk mendownload pathway CAD doc, DISINI


Tanda dan gejala
  • Asimtomatik (tanpa gejala-gejala):
  • Simtomatik (dengan gejala-gejala) : Sakit dada, bedebar-debar, sesak napas, pingsan, Sakit dada
  • Angina pektoris (seperti rasa tertekan, berat, diremas, disertai cemas, keringat dingin, sesak napas)
  • Angina pektoris stabil (sakit dada sehabis melaksanakan kegiatan)
  • Angina Varian ( terjadi impulsif umumnya sewaktu istirahat atau pada waktu aktifitas ringan. Biasanya terjadi tanggapan spasme pembuluh arteri koroner).
  • Angina Prisemental (sama dengan angina Varian)
  • Infark miokard ( nyeri yang hebat, menyerupai rasa tertekan, berat, diremas, disertai cemas, keringat dingin, sesak napas, mual, muntah)

Pemeriksaan Diagnostik
  • Hb / Ht
  • Hitung trombosit, masa perdarahan, masa pembekuan
  • Elektrolit
  • Analisa Gas Darah  (ABGS) : Identifikasi status oksigen, efektifitas fungsi pernapasan, keseimbangan asam-basa
  • Pulse olimetri
  • BUN / Kreatinin
  • Glukosa
  • Amilase
  • Enzym
  • Chest X Ray
  • Elektrokardiografi (EKG)
  • Angiografi 

Penatalaksanaan

1. Pencegahan Primer

Tindakan pengobatan yang paling penting pada arterosklerosis koroner yakni pencegahan primer itu sendiri. Pencegahan dilakukan lantaran :
  • Penyakit ini secra klinis gres terlihat kasatmata setelah ada suatu masa laten yang usang dengan perkembangan penyakit yang tidak bergejala pada awal masa dewasa. Lesi yang dianggap sebagai prekursor penyakit arterosklerosis ditemukan pada dinding arteri koroner pada bawah umur dan cukup umur muda.
  • Tidak ada terapi kuratif untuk penyakit arterosklerosis koroner. Begitu penyakit ini diketahui secara klinis, maka terapi hanya pal;iatif untuk mengurangi tanggapan dan konsekuensi klinis untuk memperlambat perkembangan.
  • Konsekuensi penyakit arterosklerosis koroner, sanggup sangat berbahaya. Infark miokard sanggup terjadi tanpa atau dengan sedikit peringatan lebih dahulu, kejadian simpulan hayat mendadak terjadi sangat tinggi, lebih dari separuh kemtian yang berkaitan dengan infark miokard terjadi pada jam-jam pertama infark, sebelum pasien dirawat di rumah sakit.
Arteosklerosis koroner merupakan salah satu penyebab utama simpulan hayat di Amerika serikat. Menurut American Heart Association, sekitar 524.000 simpulan hayat disebabkan lantaran infarka miokard pada tahun 1986.

2. Pengobatan

Tujuan pengobatan iskemia miokardium yakni memperbaiki ketidakseimbangan antara kebutuhan miokardium akan oksigen dan suplai oksigen.
  • Pengurangan kebutuhan oksigen
a. Pengurangan kerja jantung secara farmakologik:
  • Nitrogliserin
  • Pengahambat beta adrenergik
  • Digitalis
  • Diuretika
  • Vasodilator
  • Sedativa
  • Antagonis kalsium
b. Pengurangan kerja jantung secara fisik :
  • Tirah baring
  • Lingkungan yang tenang
  • Peningkatan suplai oksigen:
  • Nitrogliserin
  • Pemberian oksigen
  • Vasopresor
  • Antiaritmia
  • Antikoagulasiadan agenfibrinotik
  • Antagonis kalsium
3. Revascularisasi koroner

Aliran darah ke miokardium setelah suatu lesi arterosklerotis pada arteri koroner sanggup diperbaiki dengan operasi untuk mengalihkan anutan dan cuilan yang tersumbat dengan suatu cangkok pintas, atau dengan meningkatkan anutan di dalam pembuluh yang sakit melalui pemisahan mekanik serta kompresi atau pemakaian obat yang sanggup melisiskan lesi.

4. Revascularisasi bedah (cangkok pintas = CABG)

Pembuluh standar yang digunakan dalam melaksanakan CABG yakni vena savena magna tungkai dan arteria mamae interna kiri dari rongga dada.

Pada pencangkokan pintas dengan vena savena magna, satu ujung dari vena ini disambung ke aporta asendens dan ujung lain ditempelkan pada cuilan pembuluh darah sebelah distal dari sumbatan. Saluran gres ini dibentuk untuk menghindari pembuluh darah yang mengalami penyempitan, sehingga darah sanggup dialirkan ke miokardium yang bersangkutan. 


Konsep Asuhan Keperawatan

Pengkajian

1. Aktifitas

Dilaporkan : 
  • Kelemahan umum 
  • Tidak bisa melaksanakan aktifitas hidup
Ditandai dengan: 
  • Tekanan darah berkisar antara 124/91 mmhg- 137/97 mmhg
  • Denyut nadi berkisar antara 100 - 112 x/menit
  • Pernapasan sekitar 16-20 x/menit
  • Terjadi perubahan sesuai dengan aktifitasnya dan rasa nyeri yang timbul sekali-sekali waktu batuk.
2. Sirkulasi

Dilaporkan :
  • Riwayat adanya Infark Miokard Akut, tiga atau lebih penyakit arteri koronaria, kelainan katub jantung, hipertensi
Ditandai dengan :
  • Tekanan darah yang tidak stabil, irama jantung teratur
  • Disritmia / perubahan EKG
  • Bunyi jantung asing : S3 / S4 murmur 
  • Sianosis pada membran mukosa/kulit
  • Dingin  dan kulit lembab
  • Edema / JVD
  • Penurunan denyut nadi perifer
  • Perubahan status mental
4. Status Ego

Dilaporkan :
  • Merasa tak berdaya / pasrah
  • Marah / ketakutan
  • Ketakuatan akan kematian, menjalami operasi, dan komplikasi yang timbul
  • Takut akan perubahan gaya hidup atau fungsi peran
Ditandai dengan :
  • Kelemahan yang sangat
  • Imsomania
  • Ketegangan 
  • Menghindari kontak mata
  • Menangis
  • Perubahan tekanan darah dan teladan napas
5. Makan/minum

Dilaporkan :
  • Perubahan berat badan
  • Hilangnya nafsu makan
  • Nyeri abdomen, nausea/muntah
  • Perubahan frekwensi miksi/meningkat
Ditandai dengan :
  • Menurunnya BB
  • Kulit kering, turgor kulit menurun
  • Hipotensi postural
  • Bising usus menurun
  • Edem (umum, lokal)
6. Sensoris

Dilaporkan :
  • Sering pusing
  • Vertigo
Ditandai dengan : 
  • Perubahan orientasi atau kadang berbicara tidak relefan
  • Mudah marah, tersinggung, apatis.
7. Nyeri / kenyamanan

Dilaporkan :
  • Nyeri dada/ angina
  • Nyeri post operasi
  • Ketidaknyamanan lantaran adanya luka oprasi
Ditandai dengan :
  • Post operatif
  • Wajah tampak kesakitan
  • Perilaku tidak tenang
  • Membatasi gerakan
  • Gelisah
  • Kelemahan 
  • Perubahan tekanan darah, nadi, dan pernapasan

8. Pernapasan 

Dilaporkan :
  • Napas cepat dan pendek
  • Post operatif
  • Ketidakmampuan untuk batuk dan napas dalam
Ditandai dengan :
  • Post operatif 
  • Penurunan pengembangan rongga dada
  • Sesak napas (normal lantaran torakotomi)
  • Tanpa bunyi napas (atelektasis)
  • Kecemasan
  • Perubahan pada ABGs / pulse axymetri
9. Rasa Aman

Dilaporkan :
  • Periode bisul perbaikan katub
  • Ditandai dengan :
  • Post operati : peradarahan dari tempat dada atau berasal dari insisi tempat donor.
10. Penyuluhan 

Dilaporkan :
  • Faktor resiko menyerupai diabetes militus, penyakit jantung, hipertensi, stroke
  • Penggunaan obat-obat kardivaskuler ya ng bervariasi
  • Memperbaiki kegagalan/kekurangan

Diagnosa Keperawatan
  1. Gangguan rasa nyaman nyeri berafiliasi dengan iskemia jaringan jantung atau sumbatan pada arteri koronaria.
  2. Intoleransi kegiatan berafiliasi ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang nekrotik dan iskemi pada miokard.
  3. Resiko terjadinya penurunan cardiac output berafiliasi dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung, menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.
  4. Resiko terjadinya penurunan perfusi jaringan berafiliasi dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia.
  5. Resiko terjadinya ketidakseimbangan cairan excess berafiliasi dengan penurunan perfusi organ (renal), peningkatan retensi natrium, penurunan plasma protein.

Intervensi Keperawatan

Diagnosa. 1

Gangguan rasa nyaman nyeri berafiliasi dengan iskemia jaringan jantung atau sumbatan pada arteri koronaria.

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien di harapkan bisa menandakan adanya penurunan rasa nyeri dada, menandakan adanya penuruna tekanan dan cara berelaksasi.

Intervensi
  • Monitor dan kaji karakteristik dan lokasi nyeri.
  • Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, kesadaran).
  • Anjurkan pada pasien supaya segera melaporkan bila terjadi nyeri dada.
  • Ciptakan suasana lingkungan yangtenang dan nyaman.
  • Ajarkan dan anjurkan pada pasien untuk melaksanakan tehnik relaksasi.
  • Kolaborasi dalam : Pemberian oksigen dan Obat-obatan (beta blocker, anti angina, analgesic)
  • Ukur tanda vital sebelum dan sehabis dilakukan pengobatan dengan narkosa.
Diagnosa Keperawatan 2

Intoleransi kegiatan berafiliasi ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang nekrotik dan iskemi pada miokard.

Tujuan : setelah di lakukan tindakan perawatan klien menunnjukan peningkatan kemampuan dalam melaksanakan kegiatan (tekanan darah, nadi, irama dalam batas normal) tidak adanya angina.

Intervensi
  • Catat irama jantung, tekanan darah dan nadi sebelum, selama dan sehabis melaksanakan aktivitas.
  • Anjurkan pada pasien supaya lebih banyak beristirahat terlebih dahulu.
  • Anjurkan pada pasien supaya tidak “ngeden” pada ketika buang air besar.
  • Jelaskan pada pasien perihal tahap- tahap kegiatan yang boleh dilakukan oleh pasien.
  • Tunjukan pada pasien perihal tanda-tanda fisiki bahwa kegiatan melebihi batas.
Diagnosa Keperawatan. 3

Resiko terjadinya penurunan cardiac output berafiliasi dengan perubahan dalam rate, irama, konduksi jantung, menurunya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark.

Tujuan : tidak terjadi penurunan cardiac output selama di lakukan tindakan keperawatan.

Intervensi
  • Lakukan pengukuran tekanan darah (bandingkan kedua lengan pada posisi berdiri, duduk dan tiduran jikalau memungkinkan).
  • Kaji kualitas nadi.
  • Catat perkembangan dari adanya S3 dan S4.
  • Auskultasi bunyi nafas.
  • Dampingi pasien pada ketika melaksanakan aktivitas.
  • Sajikan masakan yang gampang di cerna dan kurangi konsumsi kafeine.
  • Kolaborasi dalam: investigasi serial ECG, foto thorax, tunjangan obat-obatan anti disritmia.
Diagnosa Keperawatan. 4

Resiko terjadinya penurunan perfusi jaringan berafiliasi dengan penurunan tekanan darah, hipovolemia.

Tujuan : selama dilakukan tindakan keperawatan tidak terjadi penurunan perfusi jaringan.

Intervensi
  • Kaji adanya perubahan kesadaran.
  • Inspeksi adanya pucat, cyanosis, kulit yang masbodoh dan penurunan kualitas nadi perifer.
  • Kaji adanya tanda Homans (pain in calf on dorsoflextion), erythema, edema.
  • Kaji respirasi (irama, kedalam dan perjuangan pernafasan).
  • Kaji fungsi gastrointestinal (bising usus, abdominal distensi, constipasi).
  • Monitor intake dan out put.
  • Kolaborasi dalam: Pemeriksaan ABG, BUN, Serum ceratinin dan elektrolit.
Diagnosa Keperawatan. 5

Resiko terjadinya ketidakseimbangan cairan excess berafiliasi dengan penurunan perfusi organ (renal), peningkatan retensi natrium, penurunan plasma protein.

Tujuan : tidak terjadi kelebihan cairan di dalam tubuh klien selama dalam perawatan.

Intervensi
  • Auskultasi suar nafas (kaji adanya crackless).
  • Kaji adanya jugular vein distension, peningkatan terjadinya edema.
  • Ukur intake dan output (balance cairan).
  • Sajikan makan dengan diet rendah garam.
  • Kolaborasi dalam tunjangan deuritika.

Daftar Pustaka
  • Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi Kedua, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1987.
  • Donna D, Marilyn. V, Medical Sugical Nursing, WB Sounders, Philadelpia 1991.
  • Marylin Doenges, Nursing Care Plans,F.A Davis Company, Philadelpia, 1984  
  • Sylvia Anderson Price, Ph D. R.N. dan L.Mc.Carty Wilson, Ph D. R.N, Pathofisiologi proses-proses penyakit, edisi I, Buku ke empat.  
untuk mendownload laporan pendahuluan CAD (Coronary Artery Deases) / Arteri koroner pdf dan doc, dibawah :
Link Alternatif
Demikian laporan pendahuluan CAD (Coronary Artery Deases) / Arteri Koroner, download format pdf dan doc kami bagikan, semoga sanggup membantu sahabat sejawat dalam pembuatan kiprah keperawatan, terima kasih.
 
Top